24 Januari 2017
Breaking News

TPID Harus Dirasakan Langsung Oleh Masyarakat

SERPONG, WEB TANGSEL-Walikota Tangerang Selatan, Airin‎ Rachmi Diany menyebutkan, setiap triwulan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar rapat rutin. Dengan kegiatan ini diharapkan ada perkembangan karya, inovasi pengendalian inflasi daerah. TPID bisa saja mengadopsi pola yang telah berjalan daerah lain yang terlebih dahulu berhasil dalam menekan angka inflasi daerah.

 

"Misalkan, di Provinsi Banten sudah membuat Warung TPID, itu bisa menjadi percontohan. Beberapa waktu lalu saya mendampingi Ibu Menteri Sosial untuk meresmikan E-Warung," terang Walikota Airin saat menghadiri Rapat Koordinasi TPID di Hotel Grand Serpong, Kota Tangerang, Jum'at, 16 Desember 2016.

Pemerintah Kota Tangsel, Walikota Airin bilang, bisa saja membua‎t E-Warung dengan menggandeng Badan Urusan Logistik. Para camat dan lurah pernah menginformasikan masih ada lahan-lahan aset daerah yang bisa digarap untuk membuat Warung TPID ataupun E-Warung.

"Yang pasti 2016 ini penguatan kelembagaan. TPID kita ada dan hadir dengan dirasakan langsung oleh masyarakat. Bukan hanya pencegahan ataupun melaksanakan monitoring harga saja. Tapi ada sesuatu yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Walikota Airin.

Di lokasi sama sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang Selatan, Ahmad Yudianto menerangkan, ada dua jenis komoditi dianggap menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Tangerang Selatan. Keduanya yakni cabe merah dan bawang merah.‎ "Keduanya cukup signifikan menyumbang inflasi," terangnya.

Ia melihat trend in‎flasi di Kota Tangerang Selatan dari Januari hingga November 2016 mencapai 2,18 persen. Sementara inflasi tingkat Provinsi Banten untuk kurun waktu yang sama tembus 2,32 persen. Sedangkan dari tahun ke tahun atau year on year (yoy) inflasi dari November 2016 sampai dengan November 2016 ‎menyentuh level 3,08 persen. Di Banten angkanya mencapai 3,33 persen.

"Bertepatan dengan Desember ini ada hal yang mesti diantisipasi," ujar Yudianto. Secara khusus pada triwulan ke empat dalam kurun waktu dua bulan terakhir terjadi peningkatan indeks harga konsumen. Dari 131,63 menjadi 132,32 atau terjadi inflasi senilai 0,52 persen.

Yudianto sebutkan, ada tujuh kelompok pengeluaran yang dianggap memberikan andil terhadap terjadinya inflasi di Kota Tangerang Selatan. Semuanya masih didominasi oleh kenaikan harga bahan makanan. Kelompok bahan makanan ini dinilai cukup signifikan mempunyai bobot yang cukup besar sebagai penyumbang inflasi. 

Yudianto paparkan, dari 0,52 persen, kelompok bahan makanan menyumbang inflasi sebesar 0,42 persen. "Kelompok pembelian bahan makanan memang yang masih menjadi dominan. Dari kelompok bahan makanan ini penyumbang inflasi paling besar adalah cabe merah 0,2571,"‎ sebut Yudianto.

Ia memaparkan, jenis komoditi l‎ainnya yang turut menjadi penyumbang inflasi antara lain, bawang merah 0,0994. Bayam 0,0290. Tarif pulsa ponsel 0.0278. Cabai rawit 0,0250. Jeruk 0,0247. Bawang putih 0,0144. Bensin 0,0134. Ikan mujair 0,0110 dan minyak goreng 0,0074.

Bagaimana dengan bulan Desember?. Yudianto melihat trend tiga tahun terakhir, pada Desember diperkirakan masih terjadi inflasi mengingat pada bulan ini ada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Natal, menyongsong Tahun Baru 2017 dan liburan anak sekolah serta kondisi cuaca yang cukup ekstrem. 

"Hasil pencacahan sampai dengan minggu kedua Desember 2016, menunjukan harga beberapa komoditi yang masih terus bergerak naik seperti cabe merah dan bawang merah," tambah Yudianto.(bpti-ts1)

 

SUMBER